Tampilkan postingan dengan label RESUME. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RESUME. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Agustus 2023


 Tema    : Usaha Penerbitan Buku

Resume : 29

Gelombang    : 29

Hari, tanggal : Rabu, 30 Agustus 2023

Narasumber  : Mukminin, M.Pd

Moderator     : Gina Dwi Septiani, M.Pd


Sebuah karya tulis hanya akan jadi pemikiran jika tidak di terbitkan menjadi sebuah buku. 

Melesatnya perkembangan literasi di negara kita, menjadikan menjamurnya usaha penerbitan buku. 

Bagaimana cara menerbitkan buku di penerbit indie? 

Apa bedanya ISBN dan QCRBN? 

Bagaimana cara mendapatkannya.?

Sharing malam ini bersama Bapak Mukminin yang lebih akrab dipanggil Cak Inin. Beliau guru dari SMP I Kedungpring Lamongan Jatim. Tepatnya arah selatan 10 KM dari kota wingko Babat. Beliau belajar menulis di usia 55 tahun. Di usia itulah menjadi titik kesuksesan beliau yang awalnya ingin menerbitkan buku solo hingga akhirnya memiliki Perusahaan penerbit yang bernama Kamila Press. Untuk mengenal beliau lebih dalam, bisa mampir ke link beliau :

https://cakinin.blogspot.com/2022/02/usia-56-tahun-aku-berkarya-dan.html

Awal Berdiri Kamila Press. 

Sebagai persyaratan kelulusan dalam mengikuti KBMN gelombang 8, setiap peserta harus melahirkan buku solo. Ketika itu, salah satu temannya meminta untuk menerbitkan tulisannya setelah melihat cover yang beliau share ke group. Niat temannya kemudian beliau diskusikan kepada penerbit dan percetakan sekalian untuk mencetak buku solonya.

Sambutan antusias dari penerbit dan percetakan meminta beliau bergabung dengan penerbitannya yang ber-ISBN. Maka pada tanggal 09 September 2019 di Lamongan berdirilah Kamila Press setelah teman beliau, petugas TU membuatkan logo untuk penerbit bukunya. 

Kurun waktu dari tahun 2019 sampai 2022 pengajuan ISBN berjalan lancar. Namun setelah September 2022, Pengajuan ISBN terjadi seleksi ketat disebabkan membludaknya permintaan nomor ISBN. Beberapa seleksi antara lain: Tidak mendapat ISBN untuk buku menulis bersama (nubar), literasi sekolah, dan kegiatan sekolah. Hal ini disebabkan karena tidak dicetak setelah mendapatkan ISBN, hanya mencetak 5 buku, atau penerbit tidak menyetorkan 2 buku yang telah dicetaknya ke Perpusnas.

Berikut Link atau web. Kamila Press Lamongan https://kamilapress.com/

Syarat-syarat mengajukan no. Buku Ber-ISBN:

1. Penerbit harus mempunyai Link berbayar

2. Buku yang diajukan no. ISBN harus dikirim lengkap ke Web penerbit lalu linknya dikirim ke petugas ISBN Perpusnas :

a. Cover buku

b. Halaman awal buku

c. Isi buku (sinopsis yang di cover belakang)

d. Permohonan buku ISBN harus mengirim Surat Pernyataan Keaslian Karya bermaterei 10.000 dan ditandatangani penulis mengetahui penanggung jawab penerbit dengan stempel penerbit

e. Naskah buku yang sudah dilayout bentuk PDF lengkap atau utuh (Judul, Penulis dan  penerbit).

3. Buku yang tidak mendapat  ISBN antara lain:

a. Buku Antologi dari 4 penulis.

b. Buku antologi tentang literasi sekolah, kegiatan kelopak literasi ( Grup antilogi kelompok penulis), laporan guru penggerak tidak bisa di-ISBNkan.

c. Skripsi, Tesis, Disertasi, hasil penelitian (Best Practise), tidak bisa di-ISBNkan


Penerbit buku ada macam. Pertama penerbit Mayor dan kedua penerbit Indhie. Apa perbedaanya? 

 1.  Jumlah Cetakan di penerbit mayor.

 # Penerbit mayor  mencetak bukunya secara masal. Biasanya cetakan pertama sekitar 3000 eksemplar atau minimal 1000 eksemplar untuk dijual di toko-toko buku.

 #Penerbit indie : hanya mencetak buku apabila ada yang memesan atau cetak berkala yang dikenal dengan POD ( Print on Demand) yang umumnya didistribusikan melalui media online Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, WA grup dll.

 2.  Pemilihan Naskah yang Diterbitkan

 # Penerbit mayor :

Naskah harus melewati beberapa tahap prosedur sebelum menerbitkan sebuah naskah. Tentu saja, menyambung dari poin yang pertama, penerbit mayor mencetak bukunya secara masal 1000 - 3000 eksemplar. Mereka ekstra hati-hati dalam memilih naskah yang akan mereka terbitkan dan tidak akan berani mengambil resiko untuk menerbitkan setiap naskah yang mereka terima. Penerbit mayor memiliki syarat yang semakin ketat, harus mengikuti selera pasar, dan tingginya tingkat penolakan.

 # Penerbit indie :

 Tidak menolak naskah. Selama naskah tersebut sebuah karya yang layak diterbitkan; tidak melanggar undang-undang hak cipta karya sendiri, tidak plagiat, serta tidak menyinggung unsur SARA dan pornografi, naskah tersebut pasti kami terbitkan. Kami adalah alternatif baru bagi para penulis untuk membukukan tulisannya.

 3.  Profesionalitas

 # Penerbit mayor :

 Penerbit mayor tentu saja profesional dengan banyaknya dukungan SDM di perusahaan besar mereka.

 # Penerbit indie : kami pun profesional, tapi sering disalah artikan. Banyak sekali anggapan menerbitkan buku di penerbit indie asal-asalan, asal cetak-jadi-jual. Sebagai penulis, harus jeli memilih siapa yang akan jadi penerbit Bapak Ibu dan Saudara-saudara. Jangan tergoda dengan paket penerbitan murah, tapi kualitas masih belum jelas. Mutu dan manajemen pemasaran buku bisa menjadi ukuran penilaian awal sebuah penerbitan. Kadang murah Cover kurang bagus, kertas dalam coklat kasar bukan bookpaper ( kertas coklat halus). Kami jaga mutu Cover bagus cerah mengkilat isi buku kertas cokal halus awet ( bookpapar).

 4.  Waktu Penerbitan

 # Penerbit mayor :

 Pada umumnya sebuah naskah diterima atau tidaknya akan dikonfirmasi dalam tempo 1-3 bulan. Jika naskah diterima, ada giliran atau waktu terbit yang bisa cepat, tapi ada juga yang sampai bertahun-tahun. Karena penerbit mayor adalah sebuah penerbit besar, banyak sekali alur kerja yang harus mereka lalui. Bersyukur kalau buku bisa cepat didistribusikan di semua toko buku. Namun, jika dalam waktu yang ditentukan penjualan buku tidak sesuai target, maka buku akan dilepas oleh distributor dan ditarik kembali oleh penerbit.

 # Penerbit indie :

 Tentu berbeda kami akan segera memproses naskah yang kami terima dengan cepat. Dalam hitungan minggu bukumu sudah bisa terbit. Karena memang, kami tidak fokus pada selera pasar yang banyak menuntut ini dan itu. Kami menerbitkan karya yang penulisnya yakin karya tersebut adalah karya terbaiknya dan layak diterbitkan sehingga kami tidak memiliki pertimbangan rumit dalam menerbitkan buku.

 5.  Royalti

 # Penerbit mayor :

 kebanyakan penerbit mayor mematok royalti penulis maksimal 10% dari total penjualan. Biasanya dikirim kepada penulis setelah mencapai angka tertentu atau setelah 3-6 bulan penjualan buku.

 # Penerbit indie :

 umumnya 15-20%  dari harga buku. Dipasarkan dan dijual penulis lewat fb, Instagram, wa grup, Twitter, status, dll

 6. Biaya penerbitan

 # Penerbit mayor :

 Biaya penerbitan gratis. Itulah sebabnya mereka tidak bisa langsung menerbitkan buku begitu saja sekalipun buku tersebut dinilai bagus oleh mereka. Seperti yang sudah disebut di atas, penerbit mayor memiliki pertimbangan dan tuntutan yang banyak untuk menerbitkan sebuah buku karena jika buku tersebut tidak laku terjual, kerugian hanya ada di pihak penerbit.

 # Penerbit indie :

 Berbayar sesuai dg aturan masing-masing penerbit. Antara penerbit satu dengan yang  lain berbeda. Karena pelayanan dan mutu buku yg diterbitkan tidak sama.

 Bapak ibu alhamdulillah setelah kita tahu perbedaan Perbedaan Penerbit mayor dan minor mungkin ada yg ingin USAHA MENDIRIKAN PENERBITAN BUKU, Silakan bisa sharing dengan saya yang sedikit punya pengalaman.

Buku-buku yg Terbit minggu ini bersama Kamila Press.


Surat Pernyataan Keaslian

Harga Penerbitan buku di Kamila Press Lamongan ( harga sewaktu-waktu bisa berubah).

✓ Biaya Cetak buku  A5, kertas Bookpapar (coklat halus) atau HVS putih  (termasuk biaya ISBN, Layuot, edit, cover buku, PO buku, sertifikat). Minimal cetak 10 buku mulai 1 SEPTEMBER 2022. 

 A. 60 halaman: # Cetak 10 buku/ eksp. =  645.000 + Ongkir

B. 70 hlm:  # Cetak 10 buku = 665.000 + Ongkir

C. 85 hlm : # Cetak 10 buku = 673.000 + Ongkir 

D. 90 hlm: # Cetak 10 Buku = 728.000 + Ongkir 

E. 100 hlm: # Cetak 10.Buku = 738.000 + Ongkir

F. 125 hlm: # Cetak 10 buku = 764.000 + Ongkir 

G. 150 hlm= # Cetak 10 buku = 815.000 + Ongkir 

H. 200 hlm: # Cetak 10 buku = 855.000 + Ongkir 

I. 250 hlm: # Cetak 10 buku = 915.000 + Ongkir 

J. 300 hlm: # Cetak 10 buku = 970.000 + Ongkir

H. 350 hlm. # Cetak 10 buku = 1.120.000 + Ongkir 

I. 400 hlm. # Cetak 10 buku = 1.170.000 + Ongkir

J. 450 hlm. # Cetak 10 buku = 1.220.000 + Ongkir

K. 500 hlm. #Cetak 10 = 1.270.000 + Ongkir 

#  SETELAH CETAK 10 BUKU DENGAN JUMLAH HALAMAN DAN HARGA TERSEBUT, Lebihnya dihitung harga cetak ulang :

1.  Cetak buku 60 hlm Harga @ 22.000

2. Cetak buku 70-75  hlm harga  @23.000

3. Cetak buku 100 hlm. Harga @ 25. 000

4. Cetak buku 140 hlm harga @ 30.000

5. Cetak buku 150 hlm @ 31.000

6. Cetak buku   250 hlm. Harga @ 42.000

7. Cetak buku  300 hlm. Harga @  47.000

8. Cetak 320 hlm. Harga @ 48.000

9. Cetak 340 hlm. Harga @ 50.000

10.Cetak 360 hlm. Harga  @ 52.000

11. Cetak 380 hlm. Harga  @ 55.000

12. Cetak 400 hlm. Harga @  57.000

13. Cetak 420 hlm. Harga @  59.000

14. Cetak 440 hlm. Harga @  62.000

15. Cetak 480 hlm. Harga @  65.000

16. Cetak 500 hlm. Harga @ 67.000


Tiada terlambat untuk menulis dan berbagi pengalaman

Menulis itu ibadah sebagai amal jarizah

Anda dikenal karena karya Anda

Ayo menulis dan terbitkan karya Anda


Salam Literasi



Tema    : Blog Sebagai Media Dokumentasi Refleksi Diri Siswa

Resume : 28

Gelombang    : 29

Hari, tanggal : Senin, 28 Agustus 2023

Narasumber  : Bambang Purwanto, S.Kom., Gr

Moderator     : Purbaniasita Kusumaning Sedya, S.Pd


Sejalan dengan teknologi digitalisasi yang semakin berkembang, banyak media yang dapat kita gunakan untuk beragam kebutuhan. Blog singkatan dari WeBlog adalah jenis situs web yang menyerupai tulisan- tulisan pada halaman web. Biasanya digunakan untuk menulis beragam tema, promosi, dan sebagainya.

Bisakah blog digunakan sebagai hal lain? Jawabnya BISA.

Narasumber kali ini adalah seorang guru TIK, pegiat literasi, pendongeng, blogger, MC dan aktivis masyarakat. Beliau adalah Bapak Bambang Purwanto, S. Kom.,  Gr., CPS atau lebih dikenal dengan nama Mr. Bams. Orang bilang tak kenal maka tak sayang. Oleh karena itu, supaya kita lebih mengenal dan sayang pada Mr. Bams, marilah kita intip profil beliau yang luar biasa ini melalui link

https://penamrbams.id/cv-bambang-purwanto/

Hasil karya Mr. Bams yg luar biasa hasil pemanfaatan Blog berjudul  Hasil Refleksi Diri yang saat ini digunakan untuk siswa SMP di tempat Mr.Bams mengabdi bisa berkunjung ke link 

https://penamrbams.id/poin-refleksi-diri-kelas-7a-smp-taruna-bakti-bandung-semester-ganjil-ta-2023-2024/

Hal yang manarik justru ketika menjadikan blog sebagai media untuk mendokumentasikan tulisan-tulisan. Blog yang kita gunakan sesungguhnya bisa membantu dalam proses pembelajaran. Profesi guru yang kita emban ini adalah profesi utama yang sangat mulia. Blog bisa diisi dengan materi yang kita ajarkan kepada siswa kita di kelas. 

Sebelum menjadi website sekarang, penamrbams.id merupakan blog yang bernama bepenamrbams.wordpress.com. Pada tanggal 27 April 2020 dalam suasana Covid-19 lahirlah www.penamrbams.id. Hobi menulis memang sangat pas, bila memiliki blog atau website. Kita sangatlah leluasa mau menyimpan tulisan apapun, karena blog atau website milik sendiri. Bahkan penamrbams.id pernah membantu pelaksanaan Kelas Menulis sehingga banyak dikunjungi. Berikut tampilan blog sebagai media pembelajaran pada SMP Taruna Bakti:



Refleksi Diri Siswa

Pada saat akhir pembelajaran setiap siswa diminta untuk menuliskan refleksi diri. Isi dari refleksi diri adalah perasaan siswa dan apa saja yang didapat dan dirasakan oleh siswa. Selain itu siswa bisa memberikan masukan kepada gurunya (Mr. Bams) agar bisa tampil mengajar dan melayani siswa dengan baik.

Manfaat Menulis Refleksi

Bagi Siswa

1. Disiplin melakukan pengisian secara rutin diakhir pembelajaran

2. Melatih praktik kemampuan menulis

3. Hasil tulisan bisa dibaca ulang

4. Bagi yang tidak hadir bisa mendapat gambaran proses kegiatan pembelajaran 

Bagi Guru

1. Seberapa taat siswa menulis refleksi diri, sehingga siswa disiplin untuk menulis setiap minggunya

2. Mendapatkan masukan dari siswa tentang pembelajaran

3. Memberikan kesempatan siswa untuk berpendapat atau menyampakan perasaannya

4. Alat ukur kedisiplan

Banyak hal-hal yang menarik yang kadang bisa membuat tersenyum, senang, bahagia bahkan kadang terharu ketika membaca refleksi dari siswa. Siswa juga bisa muncul rasa empati kepada gurunya. Melalui pemanfaatan blog, komunikasi antarsiswa dan guru akan semakin erat. Saling membangun dan memotivasi untuk memperbaiki secara berkelanjutan.

Yuk...guru milenial saatnya kita memberdayakan pemanfaatan digital dalam proses pembelajaran.


Salam Literasi 


Jumat, 25 Agustus 2023

Tema    : Berprestasi dan Go Internasional Berkah Menulis

Resume : 27

Gelombang    : 29

Hari, tanggal : Rabu, 23 Agustus 2023

Narasumber  : Rita Wati, M.Kom

Moderator     : Nur Dwi Yanthi, M.Pd


Setiap orang tentu mengidamkan berprestasi dan sukses.

Sukses keluarga, sukses karir dan yang terakhir adalah sukses di dunia dan alam akhirat.

Jalan untuk menuju kesuksesan beragam rupa. Tapi ada satu warna yang sama. Jalan untuk menuju prestasi dan kesuksesan tidaklah lurus dan bertabur bunga.

Menanjak, menukik turunan terjal. Semua membutuhkan usaha berpeluh lelah.

Malam ini bersama Cikgu Rita, Guru SMPN 2  Mendoyo, Jembrana, Bali telah membuka wawasan kita sebagai guru milenial. Prestasi Cikgu Rita dari tingkat nasional sampai kesempatan belajar di Harvard dan Volunteer AIV, Korea Selatan menunjukkan guru harus selalu mempunyai semangat membara dalam meningkatkan kompetensi diri. Sudah selayaknya, sebagai guru di era digital 4.0 dan society 5.0  'melek' perkembangan digital dan pendidikan agar dapat berkontribusi positif dan menjadi guru pembelajar sepanjang hayat. Bagaimana Cekgu Rita memulai kariernya menjadi Cekgu Milenial? Cekgu Rita mengibarkan bendera kesuksesan dan prestasi lewat jalan MENULIS.

Perjalanan Awal Cikgu Rita 

Awal mula ketertarikan Cikgu Rita dengan menulis sudah cukup lama sejak 2 dekade lalu tahun 2001 di awal menjadi mahasiswa. Karena pada saat itu beliau berteman dengan seorang penulis yang telah menerbitkan buku. Akan tetapi, beliau tidak tahu Mau menulis apa dan Bagaimana cara memulainya. Sehingga keinginan tersebut hanya keinginan yang terpendam tanpa dieksekusi.

18 tahun kemudian di tahun 2005, keinginan itu mulai menggebu kembali, saat itu beliau tidak terlalu aktif mencari tahu group belajar menulis/ kelas menulis karena pada saat itu tidak seramai sekarang pelatihan menulis. Akhirnya, beliau menulis apa yang ada di pikiran dan berhasil menghasilkan beberapa cerpen dan puncaknya ingin membuat novel dan telah berhasil sebanyak 80 halaman. Akan tetapi lucunya ketidakpedean belaiu mengalahkan cita-citanya, beliau tidak berani tulisannya dibaca oleh orang lain. Sehingga tulisan itu diendapkan di Hidden folder.

Akhirnya PANDEMI DATANG. dan bertemulah dengan Kelas Belajar Menulis yang membuka cakrawala beliau karena bertemu dengan Narsum Hebat Hingga mendapat kesempatan menulis duet bersama Prof Richardus Eko Indrajit. Mulai pertemuan ke-6 KBMN, beliau mulai berpikir bagaimana caranya membuat resume yang menarik tidak hanya copy paste hasil olah kata sendiri.

Nah ketika beliau menulis dengan hasil olah kata sendiri, justru dishare oleh Om Jay. Sejak saat situ semangat menulis beliau semakin menggebu  hingga selesai 30 kali pertemuan dan mulai diajak menjadi Kurator oleh bu Kanjeng.

Hingga saat ini beliau telah berhasil menerbitkan 4 buku solo, 1 buku duet  bersama Prof Ekoji yang diterbitkan di penerbit Andi dan 10 buku antologi di mana 5 antologi beliau yang menjadi kurator serta editor lapis pertama dan 3 editor buku fiksi berupa cerpen dan novel karya peserta Belajar Menulis. Karya yang terbaru beliau berkesempatan untuk menulis buku Biografi Kepala BI Wilayah Bali Nusra.

Motivasi Cekgu Rita

Ketika semangat itu sedang tumbuh maka manfaatkanlah dengan maksimal. Itulah pesan Cekgu Rita dalam menulis. Beliau bisa menyelesaikan S2 dalam 3 semester dengan dibarengi kepadatan kegiatan karena kampusnya menyediakan Thesis Jalur Lomba dengan Jurnal Publikasi. Beberapa kali menjuarai blog sehingga beliau mengajukan thesis lewat jalur lomba.

Ada beberapa motivasi dari Cekgu Rita:

1. Manfaat Menulis. Ada beberapa manfaat menulis yang bisa dirasakan oleh penulis.

2. Tujuan Menulis. Bagi penulis, tujuan menulis merupakan ruh dari menulis itu sendiri. Tentukan tujuan kita masuk dalam kategori yang mana ketika kita mulai menulis. 

3. Tips Menulis. Setelah kita menentukan tujuan menulis, langkah selanjutnya adalah mencari sumber tentang tips-tips menulis. Hal ini penting dilakukan untuk menjaga konsistensi dalam menulis.
Cekgu Rita menjadi kapsul motivasi tersendiri ketika kita membaca perjalanan prestasinya. Kita bisa mengenal lebih dalam dengan Cekgu Rita melalui :
https://linktr.ee/cikgumilenial?fbclid=PAAaan473s_cSmQlCCMva4WOEBqpTZKRynKFS8jSRdi6PnPmGuGKViidmNZws
Satu pesan dari Cekgu Rita, 'Jangan lelah menulis dan terus menulis.'



Salam Literasi



Kamis, 24 Agustus 2023


Tema    : Writing By Heart

Resume : 26

Gelombang    : 29

Hari, tanggal : Rabu, 23 Agustus 2023

Narasumber  : Mutmainah, M.Pd

Moderator     : Widya Arema


Dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali

Dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati.

❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

Hati adalah Raja, sedangkan anggota tubuh adalah prajuritnya.

Kita merasai senang, suka, sedih, bingung, khawatir, bahkan jatuh cinta dan patah hati menggunakan hati. By Hearth.

Segala yang kita sampaikan dari hati, maka akan sampai ke hati pula.

Bagaimana jika menulis dengan melibatkan hati, apakah akan sampai pula ke hati pembacanya?

Sure.... Pasti....

Terus bagaimana caranya?

Sulitkah?

Tekniknya apakah sama?


 Malam ini bersama narasumber Ibu Mutmainah, M.Pd dan moderator Ibu Widya Arema akan mengupas tuntas tentang writing by heart. Pertemuan malam ini membangkitkan lagi semangat para peserta KBMN agar menulis bisa dijadikan 'makanan' sehari-hari. Ketika kita mengalami writing block, hilang semangat, dan tidak konsisten, maka hati lah yang harus berperan agar kita selalu konsisten dalam menulis.

There's always a first time for everything

 Selalu ada pengalaman pertama untuk segala sesuatu, dan untuk kesalahan dalam pengalaman pertama segala kesalahan termaafkan, sedangkan keberhasilan adalah luar biasa.

 I will never know until I try

Kalau saya tidak mencoba maka saya tidak akan tahu apakah saya melakukan kesalahan atau kegagalan atau menjadi sukses.

 Bagaimana pun jadinya nanti saya tetap mendapatkan hal yang sangat berharga sebuah pelajaran dari pengalaman yang saya alami.

Jika kita menulis sambil mengedit tulisan kita tidak akan  jadi.

Saat menulis libatkan emosi kita. Beri warna dan rasa pada tulisan kita.

Saat kita menuliskan tentang kesedihan gambarkan kesedihan itu. Bagaimana rasanya sedih, tulis saja seperti kita sedang berbicara curhat pada  sahabat kita jika kita sedang sedih.

Saat kita sedang marah sampaikan rasa amarah itu dalam kata kata. Sehingga seolah pembaca merasakan aura kemarahan kita.

 

Apa itu Writing by Heart?

Sejatinya menulis adalah keterampilan tertinggi setelah membaca dan berbicara.

Menulis dengan hati artinya jadikan hati sebagai inspirasi saat menulis. Jadikan hati sebagai sumber untuk mengolah ide dan inspirasi yang disampaikan melalui tulisan.

Otak dan pikiran hanyalah alat dari proses menulis yang bersumber dari hati tersebut.

Tulisan adalah jiwa, setiap yang berjiwa pasti bisa menulis, tulisan dengan hati akan sampai ke hati.

 Tips menulis dengan hati

 1. Libatkan emosi.

 Emosi yang dimaksud disini adalah emosi yang positif ya....

Tulis apa saja yang kita rasakan, kita amati, dan kita dengarkan. Tulis semuanya apa adanya, tanpa perlu diedit terlebih dahulu.

 2. Libatkan panca indera.

 Tiga sahabat itu meringkuk ketakutan. Di tengah samudra biru, mereka terombang-ambing di atas kapal yang sudah lubang sana sini. Tangan mereka terikat jaring dengan kuat, sementara mulut kelu dalam gigil kedinginan. Dari kejauhan sesosok makhluk yang besar semakin mendekati mereka.

Makhluk itu sangat besar, tingginya melebihi pohon kelapa. Badannya sebesar gedung tingkat delapan. Surainya mencuat tinggi berwarna keperakan disinari matahari. Entah makhluk apa yang mereka lihat. Matanya yang merah menampakkan amarah. Makhluk itu menghantamkan ekornya dengan kuat.

Byuuuurrrr, seketika air laut bergejolak setinggi 30 meter. Baju mereka basah kuyup, rasa dingin bukan masalah terbesar mereka. Tapi tatapan marah ikan itu. Ikan itu semakin mendekati mereka. Satu ayunan sirip lagi, akan tiba dihadapan mereka. Ooh bagaimana nasib ketiga sahabat itu selanjutnya?

Naah bagaimana saat kita membaca paragraf ini?

Tentu kita juga merasakan dingin, dan ketakutan seperti ketiga sahabat itu bukan.

Jadikan tulisan kita memiliki rasa takut, senang, melalui melihat, mendengar, membau. Libatkan semua panca indera.

 3. Tulis sesuatu yang kita sukai.

 Bapak ibu pasti pernah merasa jatuh cinta kan? Bagaimana kita menggambarkan orang yang kita sukai. Hemmm pasti paket lengkap untuk mendeskripsikannya. Mulai wajahnya  penampilannya, sikapnya. Bahkan senyumnya pun kita bisa melukiskannya dengan jelas.

Kenapa bisa seperti itu?

Kuncinya karena SUKA

Jangan menulis sesuatu yang tidak kita sukai. Ibaratnya jika Anda tidak menyukai minum kopi, jangan memaksa minum kopi. Pasti tidak akan menggambarkan kopi itu secara obyektif bukan?

 Intinya tulis sesuatu yang kita sukai.

Jangan menulis karena terpaksa.

Ingat tulisan yang ditulis dengan terpaksa hanya akan berupa rangkaian huruf tanpa nyawa.

Kosong, bisu dan tak membekas di hati pembaca. Menulis adalah soal perasaan. Tidak cukup hanya pengetahuan, seorang penulis harus memiliki pemahaman. Pemahaman dimulai dari memahami diri sendiri baru memahami orang lain.

 

Penulis yang punya rasa akan menjadi sensitif dan mampu menangkap banyak hal. Efek ke tulisan, tulisannya akan menjadi lebih dalam dan dapat dimaknai oleh pembaca karena menyentuh pembaca. Dengan melibatkan rasa, penulis akan merasakan pengalaman keterlibatan sesuatu yang menggelegak dari dalam dirinya dan hal itu kemudian akan ditangkap oleh pembacanya. Merasa nggak? Menulis adalah seni. Seni adalah keindahan. Seni adalah kreativitas. Seni juga bisa berarti jalan. Dengan seni, penulis memiliki jalan yang otentik di dalam karya-karyanya yang sulit ditiru oleh orang lain. Jadi hal ini adalah sebuah ciri khas mendalam dari penulis.

 4. Jangan Mengharap Pujian.

 UNTUK APA KITA MENULIS?

 Jika kita menulis hanya karena pujian, orientasi kita bukan pada segi manfaat tulisan kita.

Tapi semata mata karena ingin dipuji. Dan saat tulisan kita sepi dari pujian maka kita akan badmood bahkan malas untuk menulis. Berbeda  dengan jika menulis semata2 karena ibadah ingin menebarkan sesuatu yg menghibur, yg bermanfaat. Dipuji atau tanpa dipuji kita akan terus melaju dengan tulisan kita.

 5. Who dan do.

 Who artinya kenali siapa yang akan membaca tulisan kita.

Jika kita ingin tulisan kita mengena pada remaja maka posisikan diri kita sebagai remaja. Mulai dari gaya bahasa, topik dan hal- hal yang lagi digandrungi remaja.

Jadikan diri kita sebagai pembaca.

 Do artinya pesan apa yang ingin kita sampaikan pada pembaca. Dengan harapan pembaca akan melakukan apa yang kita tulis dan kita harapkan sesuai tujuan tulisan kita.

 6. READ AND READ.

Seorang penulis hendaknya suka membaca.

Ibarat kendaraan maka membaca adalah bahan bakar seorang penulis. Dengan membaca kita akan kaya akan ide, bahasa dan bahsn menulis. Dikutip dari Rencanamu.id (24/09/18), hasil dari penelitian Stephen D. Krashen dalam bukunya yang berjudul Writing: Research, Theory, and Application, bahwa ada hubungan antara kegiatan membaca dan menulis. Responden yang merupakan para penulis itu ternyata gemar membaca sejak kecil dan mengaku sudah terbiasa menulis sejak masih sekolah.

 Jadi, semakin banyak seseorang membaca, wawasan dan pengatahuannya pun akan semakin luas, sehingga memiliki banyak referensi atau ide untuk menulis. Dengan kata lain, tiap kalimat yang dituliskan akan mengalir mudah, karena sudah mempunyai bekal informasi.

 7. JUJUR

 Mulutmu bisa berbohong tapi tulisanmu tidak.

 kata orang apa yang tertulis tak mampu berbohong bahwa tulisan adalah isi hati penulis, saat matamu bisa berbohong maka tulisanmu tidak, artinya tulisan kita adalah gambaran dari kita.

 8. Konsisten.

 Poin yang ke 8 ini sangat mudah dikatakan tapi susah dilakukan.

Ibarat berjalan selalu ada karang  yang menghadang. Angin badai menerpa, meruntuhkan kesadaran

tapi yakinlah itu semua hanya kerikil tajam sandungan. Akan memperkokoh genggaman tangan dalam satu TUJUAN yakni menjadi penulis.

Saat lelah mendera, pikiran buntu, atau writer block menyerang istirahatlah. Tapi setelah itu ayunkan kaki lebih tinggi. Tulisan yang dibuat dengan hati akan sampai pada hati pula. Tulisan itu akan membius dan membekas dihati pembacanya. Saat tulisan kita memiliki soul, maka tulisan itu tidak akan membosankan. Melekat dalam ingatan.

 Manfaat menulis dengan hati:

1. Lebih menyentuh pembaca

Tulisan yang dihasilkan dari luapan emosi, akan lebih menggugah pembaca. Sebaiknya tulisan yang datar, akan terasa membosankan. Saat menulis, Anda tidak hanya memproduksi kata-kata, namun Anda tengah memproduksi rasa. Maka hadirkan perasaan dan emosi positif saat menulis. Instal dalam diri Anda emosi positif sehingga membanjiri diri Anda selama proses menulis. Emosi positif ini akan membimbing untuk terus menerus mengeluarkan kata-kata. Coba rasakan tulisan Anda yang terbimbing oleh emosi positif, pasti sangat berbeda dengan apabila tulisan terbimbing oleh emosi negatif.

2.    Ketika kita sedang menulis sebuah novel sepenuh jiwa, maka tulisan tersebut akan memiliki nyawa dan seolah-olah bisa dirasakan secara nyata oleh pembaca. Kita pasti pernah membaca sebuah buku yang membuat kita merasa masih larut dalam cerita meskipun sudah selesai membacanya? Bisa jadi penulis buku tersebut sangat menjiwai tulisannya.

3.    Lebih mudah menyusun cerita.

Tentu kita pernah merasakan Writer Block. Tak ada ide menulis. Jangankan menulis paragraf. Membuat kalimat saja kadang tak terangkai. Maka cobalah menulis dengan hati. Tulis semua yang ada disekeliling kita, rasakan dengan indera kita. Tulis saja, tanpa mengindahkan kaidah penulisan. Tulis seolah kita berbicara. Menulislah dengan berbagi rasa lewat abjad, dan menyentuh hati pembaca lewat tulisan.

Bandingkan dua tulisan ini

Contoh menulis melibatkan hati dan tidak melibatkan hati

 1. Hari ini hujan turun dengan lebat. Budi sang penjual koran duduk kedingian di trotoar dengan menahan rasa lapar.

 2. Awan mendung terlihat menghitam, suara tetesan hujan semakin menderas. Sesekali terdengar cahaya kilat dan suara petir memekakkan telinga. Si budi kecil penjual koran, menggigil dalam beku. Matanya perih menahan tetesan hujan. Mulutnya membiru, seakan membeku. tangan dan kakinya kelu dan lunglai menahan lapar seharian. Tuhan berikan rezeki untuk bisa kumakan hari ini pintanya syahdu memandang awan kelabu.

 Contoh no 2 tentu lebih menyentuh dan ngena karena di tulis sepenuh hati, beda dengan nomor 1 yang terasa datar.

Pada sesi penutup, narasumber memberikan tips menulis:

"Lupakan teori menulis, just write and write"

  • Menulislah dengan hati
  • Menulis itu seperti berbicara, sesuatu yang kita senangi
  • Menulislah dengan hati untuk menghadirkan hati pembaca dalam tulisan anda


Salam Literasi

Selasa, 22 Agustus 2023


Tema    : Menulis Buku dari Karya Ilmiah

Resume : 25

Gelombang    : 29

Hari, tanggal : Senin, 21 Agustus 2023

Narasumber  : Eko Daryono, S.Pd

Moderator     : Bambang Purwanto, S.Kom., Gr


Di ujung pertemuan KBMN PGRI ke-29 malam ini membahas 'Menulis Buku dari Karya Ilmiah'. Bersama moderator bapak Bambang Purwanto, S.Kom., Gr yang akan membersamai narasumber Pak Eko Daryono, S.Pd. memberikan wawasan yang lebih mendalam bagaimana sebuah karya ilmiah menjadi buku. Tema yang tentunya teoristis dan bikin pusing mengingat tidak ada standarisasi konversi KTI menjadi buku. Namun demikian, dari berbagai pengalaman yang telah disampaikan oleh para Widyaiswara, Peneliti LIPI, Pakar Menulis akhirnya mengerucut pada standar isi buku.

Apa itu Karya Tulis Ilmiah? Menurut Perka LIPI No 2/2014 bahwa: “Karya tulis ilmiah adalah tulisan hasil litbang dan/atau tinjauan, ulasan (review), kajian, dan pemikiran sistematis yang dituangkan oleh perseorangan atau kelompok yang memenuhi kaidah ilmiah"

Apa sajakah yang termasuk dalam KTI ?

Secara umum KTI ada dua yaitu KTI Nonbuku dan KTI Buku


Mengacu penjenisan tersebut ternyata tidak semua KTI itu berupa buku. Secara wujud, PTK, PTS, Tugas Akhir, skripsi, tesis, desertasi memang berwujud buku, namun bukan buku. Lebih tepatnya laporan hasil penelitian dan sifat publikasinya pun terbatas.

Bagaimana struktur penulisan KTI pada umumnya?

Umumnya KTI tersusun atas bab-bab dengan penomoran yang struktural sesuai dengan jenis KTI serta institusinya.

contoh umum yang mungkin sudah banyak dilihat badan sistematika berikut:


Apa perbedaan laporan KTI dan KTI yang telah dikonversi menjadi buku?


Buku hasil konversi dari KTI bisa di ISNB-kan sedangkan KTI yang langsung dibuat buku tanpa konversi atau mentah (KTI langsung diterbitkan) umumnya QRCBN

Bagaimana cara mengkonversi KTI menjadi buku?

Langkah Pertama : Memodifikasi Judul

Judul KTI umumnya mengandung unsur : variabel penelitian, objek penelitian, dan setting penelitian (baik tempat maupun waktu).

Judul buku hasil konversi ini seperti judul buku-buku lain harus menarik, unik, mudah diingat, dan mencerminkan isi buku. Kemenarikan judul buku sifatnya subjektif.

Contoh sederhana dari KTI dari Bapak Eko :


Langkah Kedua : Memodifikasi Sistematika dan Gaya Penulisan

KTI Nonbuku yang berupa laporan hasil penelitian umumnya ditulis dengan sistematika dan penomoran yang baku seperti yang telah diuraikan di atas.

Nah, pada saat laporan tersebut dikonversi menjadi buku, maka harus dimodifikasi gayanya sesuai dengan gaya penulisan buku. Tidak tampak lagi adanya sub bab-sub bab yang membuat isi buku seolah-olah terpisah-pisah

Modifikasi Bab I

Bab I yang biasanya PENDAHULUAN boleh tetap dipertahankan judulnya dengan PENDAHULUAN, boleh PEMBUKA namun lebih menarik jika diambilkan dari intisari Bab I, misalnya fenomena yang terkait dengan inti buku

Secara struktur, tidak diperlukan lagi sub bab - sub bab seperti latar belakang, permasalahan, tujuan, manfaat dalam bentuk angka-angka. Fokusnya lebih mengeksplor latar belakang

Modifikasi Bab II

Bab 2 dapat dibagi menjadi beberapa bab dalam buku dengan cara mensplitnya sehingga setiap bab mengandung satu aspek pembahasan

Modifikasi Bab III

Bab III yang berisi metode penelitian biasanya diringkas menjadi satu atau dua paragraf dan dimasukkan pada bab IV di bagian awal.


Sekedar contoh untuk meringkas. Apakah narasi di atas baku? Tentu tidak. Maksudnya bab 3 memang bisa benar-benar tidak tampak lagi dalam buku hasil konversi KTI

Modifikasi Bab IV

Bagian ini sejatinya merupakan bagian inti isi buku, sesuai dengan judul buku. Bab IV tidak lagi menggunakan judul Hasil Penelitian dan Pembahasan, namun disesuaikan dengan konteks buku. Biasanya Judul buku menjadi pilihan sebagai judul Bab IV, namun sekali lagi tergantung pada penulis yang ingin mengeksplor kelebihan bukunya

Modifikasi Bab V

Pada laporan hasil penelitian, bab V biasanya diberi judul PENUTUP. Judul tersebut dapat dipertahankan. Substansi isinya sesuai dengan fenomena yang diangkat tanpa adanya prasaran

Modifikasi Lampiran

Lampiran yang disertakan hanyalah instrument penelitian atau hasil olah data. Adapun data-data yang menyangkut privaci tidak boleh disertakan, misalnya daftar nilai siswa lengkap dengan namanya. Jika ingin menyajikan nilai siswa sebaiknya dibuat kode-kode atau dibuat tabulasi.

Bolehkah laporan KTI apa adanya langsung dijadikan buku?

Sah-sah saja penulis langsung menerbitkan KTI-nya menjadi model seperti buku (tapi bukan buku). Hanya saja buku semacam ini sulit untuk memperoleh ISBN. terlebih saat ini penerbitan ISBN begitu selektif

Secara persepsi pembaca yang akan menilai kelayakannya. Nilai jual KTI yang langsung dibukukan tanpa dikonversi tentu akan berbeda dengan yang memang dikonversi jadi buku

Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan saat mengkonversi KTI menjadi buku?

Pertama, keaslian laporan hasil penelitian

Kedua , menghindari kompilasi yang terlalu banyak.

Ketiga, memilah dan memilih data yang dipublikasikan

Keempat, modifikasi bahasa buku

Kelima, hindari pengambilan sumber kutipan kedua atau pendapat yang kurang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Keenam, wajib menuliskan semua daftar Pustaka yang dipakai sebagai rujukan dalam buku untuk mendukung keabsahan buku.

Ketujuh, memperhatikan kaidah penyusunan buku ber-ISBN (optional)

Berdasarkan pengalaman narasumber dari kegiatan mengeditori ribuan buku khususnya yang berbentuk karya tulis ilmiah, banyak sekali pemilik naskah yang takut kehilangan naskah asli dari karya ilmiah yang dikonversi. Realitasnya memang membuat buku dari karya tulis ilmiah seolah melahirkan buku baru terlebih jika buku tersebut hendak di ISBN kan.

Sebenarnya apapun jenis karya ilmiah dapat dikonversi menjadi buku dengan catatan jangan takut kehilangan naskah karena buku hasil konversi memang tidak bisa dipaksakan sama persis dengan naskah karya ilmiah aslinya. Namun yang perlu disadari, nilai guna dan nilai jual buku hasil konversi jauh lebih tinggi dari naskah aslinya.

Sebagai penutup, Narasumber memberikan motivasi untuk tidak takut mencoba karena kita didampingi mentor-mentor hebat di Timnya Omjay yang siap membantu. Jangan pernah menyerah dengan tantangan yang ada harus dihadapi. 

"Menulis itu olah kata dengan rasa, karena menulis seperti berbicara dan teman bicaranya adalah HATI.” Eko Daryono – Sang Pena Lereng Lawu


Salam Literasi


  Sudah lama blog ini penuh dengan sarang laba-laba. tidak ada aktivitas menulis sejak beberapa bulan terakhir. Padahal dengan konsisten, ki...